Kamis, 26 November 2015

Fun n Care di Yayasan Al Misbah


Foto by Utaminami
Satu persatu dari kami mulai berdatangan di Stasiun Bogor, setelah semua peserta Fun n Care Traveller lengkap kami pun melanjutkan perjalanan dengan dua transportasi angkot yang sudah dicarter sebelumnya menuju desa Cikereteg. Berdasarkan info makcik Tetty bahwa perjalanan akan memakan waktu selama 2 jam, wah sudah kebayang seperti apa perjalanan kami nanti, belum lagi daerah Ciawi yang terkenal macetnya di akhir pekan. Alhamdulillah, situasi jalan mendukung niat baik kami. Perjalanan cuma ditempuh hanya 1 jam karena kondisi jalan yang belum terlalu macet dan juga obrolan dan candaan kami di angkot yang seakan mempersingkat waktu.

Kami pun tiba di gerbang sekolah Madrasah Tsanawiyah "Sirojul Wildan", sekolah dibawah naungan Yayasan Al Misbah yang beralamat di Jalan Veteran I Cikereteg Gg. Menteng Caringin Bogor 16730. Selain MTs "Sirojul Wildan", Yayasan Al Misbah juga mengelola Madrasah Aliyah Keterampilan (MAK) Sirojul  Athfal 2. Kedua sekolah ini adalah sekolah yang biaya operasionalnya hanya mengandalkan dari dana BOS, karena siswa siswi yang bersekolah di sini adalah dari keluarga yang tidak mampu. Walaupun mereka memiliki keterbatasan dalam biaya pendidikan tapi mereka mempunyai keinginan yang besar untuk menuntut ilmu.

Di depan gerbang MTs Sirojul Wildan Foto by Makcik Tetty
Kami disambut dengan baik oleh guru-guru dan adik-adik. Ternyata sekolah sedang mengadakan perlombaan paduan suara dengan membawakan lagu bertema perjuangan dan kemerdekaan. Mba Halida salah satu perwakilan dari Yayasan Al Misbah yang sudah kami kenal dengan baik menyambut kami dan dari beliau pun kami bisa sampai disini. Mba Halida membawa kami ke saung yang sangat nyaman. Setelah melepas lelah sejenak dan mengumpulkan buku-buku donasi dari teman-teman yang hadir maupun yang tidak hadir, kami langsung memulai acara Fun n Care Traveller.


Kakak-kakak keceh sedang mempersiapkan perlengkapan
Acara Fun n Care Traveller terbagi menjadi 3 acara yaitu penyuluhan bank sampah, prakarya dengan media kaleng bekas dan panen singkong di kebun kakek mba Halida. Acara dibuka oleh Kak Dwee yang memperkenalkan kami kepada adik-adik, baru sesi perkenalan saja kami sudah dibuat kagum oleh keramahan dan antusias mereka dalam menyambut kami, ditambah lagi yel-yel yang selalu mereka dendangkan menambah kemeriahan kelas. "Terima kakak, terima kakak, kami ucapkan", salah satu yel-yel dari mereka.Sungguh kreatif sekali mereka.

Selanjutkan sesi penyuluhan bank sampah yang akan disampaikan oleh Kak Uut ke adik-adik MAK Sirojul Athfal 2 pun dimulai. Kak Uut menyampaikan bagaimana mengelola dan manfaat dari bank sampah, selain materi adik-adik juga diajak untuk bermain dengan sampah. Ada tiga kantong sampah dengan warna kuning, hijau dan merah. Warna kuning untuk sampah anorganik yang terdiri dari botol, besi bekas, plastik, kaca dan kaleng. Warna hijau untuk sampah organik seperti daun, kayu, ranting, kertas, sisa sayuran dan buah-buahan. Sedangkan warna merah adalah sampah B3 seperti baterai bekas, tinta dan bahan-bahan yang mengandung mercury. Adik-adik yang berani maju diberikan media sampah dan mereka disuruh memasukkan sampah tersebut ke salah satu kantong sampah sesuai dengan jenisnya. Diakhir penyuluhan ada pesan dari Kak Ina "Kalau kita tidak bisa membersihkan maka jangan sampai kita yang membuat kotor". Pesan moral yang sangat bagus sekali untuk diterapkan agar lingkungan kita menjadi bersih.


Kak Dwee membuka acara
Kak Uut sedang menyampaikan materi bank sampah
Media praktek pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya
Di ruangan lain tepatnya di saung makcik Tetty ditemani oleh Kak Aimee mengajak adik-adik Mts Sirojul Wildan untuk membuat prakarya celengan owl dari kaleng bekas. Adik-adik dibagi menjadi 3 kelompok yang setiap kelompok dibantu oleh kakak-kakak keceh (makcik yang mengistilahkan keceh hehehe). Lucu melihat mereka yang sangat serius sekali membuat celengan, mereka berkreasi dengan ide-ide agar celangan mereka menjadi bagus. Setelah selesai celengan owl mereka dikumpulkan dan akan diberi penilaian oleh kak Iyu dan kak Asih, dan terpilih 4 celengan owl paling terbaik dari yang terbaik. Hadiah diberikan oleh kak Vera dan Uni Yasmin kepada 4 adik yang celengannya terpilih.
Adik-adik MTs Sirojul Wildan membuat celengan owl
Celengan Owl hasil karya adik-adik (Foto by Makcik Tetty)
Selesai membuat prakarya acarapun ditutup dengan penyerahan donasi untuk adik-adik yang diwakilkan oleh saya sendiri dari Fun n Care Traveller dan mba Halida perwakilan dari Yayasan Al Misbah. Setelah itu kami pun foto bersama.
Penyerahan donasi ke Yayasan Al Misbah
Simbolis penyerahan donasi ke adik MTs Sirojul Wildan
Kak Ibad dan makcik Tetty tak lupa memberikan hiburan kepada adik-adik dengan melakukan gerakan senam Olchaengi. Adik-adik pun senam sambil tertawa. Ini sebenarnya adik-adik yang butuh hiburan atau kakak-kakak kecehnya yang butuh hiburan hehehe.

Tepat jam 12 siang acara ditutup, kami pun sholat dan kemudian dijamu dengan makan siang yang super wow dan yang lebih terharu dimasak sendiri oleh adik-adik yang tinggal di sekolah. Terima kasih ya adik sudah memasak dan menyajikan makan siang yang menambah kebersamaan kami. Makan nasi dengan lauk dihamparan daun pisang ditambah sayur asem dan tak lupa sambal menambah kenikmatan makan siang kami, serta kelapa muda makyuss.

Makan siang bersama beralaskan daun pisang
Segarnya minum kelapa muda
Selesai makan siang kami pun bersiap bersama adik-adik menuju kebun singkong kakek mba Halida. Kata adik Beduh kebunnya tidak jauh dekat dengan tiang listrik. "Subhanallah indahnya" ucapku takkala kami melewati padang ilalang yang sangat luas. Awal perjalanan langsung disuguhi view yang begitu indah membuat kami tambah semangat untuk melangkahkan kaki. Rumput ilalang yang indah serta angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat kami berhenti sejenak untuk bernasis ria bersama.


Padang Ilalang dengan angin sejuk sepoi-sepoi




Bersama kalian
Perjalanan pun dilanjutkan dengan menaiki dan menuruni bukit, hati mulai curiga kenapa tidak sampai-sampai ke kebunnya, ini tidak hanya sekali menaiki dan menuruni bukit tapi sampai berkali-kali bahkan kita masuk ke dalam hutan juga dan melewati jembatan kayu yang sudah rapuh membuat agak riskan untuk melewatinya. Walaupun hanya ke kebun singkong tapi ini bukan kebun singkong sembarangan karena untuk mencapainya harus memiliki fisik yang kuat, sama saja kaya treking ke Gunung Ijen hahaha. Bagi saya yang vakum treking hampir setahun membuat saya menguras keringat dan ngos-ngosan.


Masuk hutan
Awas hati-hati kepleset..
Finally, sampai juga di kebun singkong. Yukkk kita panen singkong. Kami pun langsung mencabut singkong, tapi ada juga yang kelelahan treking sampai-sampai air kelapa Uni Yasmin dihabiskan oleh mba Dwee :), ada juga duo keceh yang terinspirasi langsung membuat partai ketela berorasi sambil mengangkat singkong hasil panen hehehe. Singkong yang sudah dipanen langsung dimasukkan ke dalam karung dan sebagian diikat oleh abah.

Ayo semangat nyabut singkongnya :)


Hore dapat juga singkongnya..
Matahari sedikit demi sedikit mulai tenggelam, kami pun menyadari bahwa sudah saatnya bagi kami untuk kembali ke Jakarta. Kami berpamitan dengan mb Halida dan adik-adik dan tak lupa tangan kami membawa oleh-oleh singkong yang sudah kami panen bersama.


Alhamdulillah panennya banyak


Habis panen gaya dulu di depan kamera. Satu dua tiga chisss..
Mari Pulanggg.. Makcik Tetty mantap nian bawa singkongnya..
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, tapi perpisahan kali ini bukan untuk selamanya. Angkot kami perlahan-lahan meninggalkan Yayasan Al Misbah dan semakin jauh Desa Cikereteg tidak terlihat lagi. Semoga Allah SWT mempertemukan kami kembali dalam situasi adik-adik yang lebih baik dan semoga adik-adik semua sukses dan tercapai cita-cita mulia kalian semua. Aamiin.


Foto Bersama dengan adik-adik MTs Sirojul Wildan
Foto bersama dengan adik-adik MAK Sirojul Atfhal 2




Senin, 22 Desember 2014

Keceriaan di SDN Ciasihan 02



Siapa bilang para traveler hobinya cuma jalan-jalan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Saya dan teman-teman dari United Travelers memiliki hobi traveling, tapi hal itu tidak membuat kami menutup mata terhadap masyarakat sekitar. Kali ini United Travelers mengadakan bakti sosial (baksos) yang ke tujuh dan memilih tema “Kelas Inspirasi” di SDN Ciasihan 02 yang terletak di Jalan H.M. Parta Kp. Lapangan Rt.03/02 Desa Ciasihan KM 4 Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor.

Sabtu pagi dengan udara yang sejuk saya dan teman-teman dari Tim Baksos United Travelers tiba di SDN Ciasihan 02. Saat kami mulai memasuki gerbang sekolah, wajah-wajah mungil dan polos dengan senyum yang hangat menyambut kedatangan kami. Mereka satu persatu menyalami kami dengan riang, suasana yang membuat hati kami menjadi nyaman setelah melihat keramahan mereka, dimana sebelumnya kami merasa deg-degan bagaimana nanti menghadapi mereka di depan kelas dan berpikir apakah mereka akan menerima apa yang kami sampaikan.

Satu persatu mereka berbaris rapi di lapangan atas instruksi guru mereka. Kami pun menyalami kepala sekolah Ibu Tuti Alawiyah dan para guru. Selanjutnya acara dibuka oleh pak Dadang dan kak Anggi, dari pihak sekolah sambutan diwakilkan oleh pak Ujang karena ibu Tuti Alawiyah sebagai Kepala Sekolah suaranya sedang serak dan dari pihak United Travelers diwakilkan oleh kak Leo.
Sebelum kelas inspirasi dimulai, kak Nita dan kak Dewi memberikan pemanasan terlebih dahulu kepada adik-adik untuk melakukan gerakan yang dinamakan Senam Sehat Ceria, semua siswa termasuk panitia tim baksos bersemangat mengikuti gerakan dari kak Nita dan kak Dewi.

Setelah selesai senam, adik-adik satu persatu memasuki kelas masing-masing diikuti oleh kakak tim pengajar. Saya bersama kak Ois dan kak Cipluk mendapat tugas di kelas 5B. Kami bertiga akan memberikan kelas inspirasi kepada adik-adik kelas 5B dengan contoh cita-cita sebagai Writer. Sebelum masuk ke materi utama, kami memberikan ice breaking kepada adik-adik agar kelas inspirasi ini tidak membosankan bagi mereka. Mereka sangat antusias mengikuti kelas inspirasi ini, hal ini terlihat dari cara mereka menerima apa yang kami berikan. Mereka sangat senang. Saat masuk ke materi inspirasi mereka mendapatkan tugas menyusun puzzle yang telah kami sediakan sebagai media belajar. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama dibantu oleh kak Cipluk dengan puzzle gambar pemandangan, kelompok kedua dibantu oleh saya sendiri dengan puzzle gambar kucing dan kelompok ketiga dibantu oleh kak Ois dengan puzzle gambar kelinci. Setelah mereka selesai menyusun puzzle tersebut, mereka diharuskan untuk menuangkan apa yang ada di gambar ke dalam bentuk tulisan, dan ini adalah salah satu proses dalam menulis. Selesai membuat tulisan, perwakilan dari salah satu kelompok membacakan hasil tulisan mereka di depan kelas dan mereka mendapatkan apresiasi dari yang lainnya. 

 
Kak Cipluk meminta kepada mereka untuk menulis kata-kata “Suatu hari nanti saya akan menjadi…” dan tulisan itu harus disimpan di tempat yang mudah mereka baca di rumah, agar mereka selalu teringat akan cita-cita mereka dan bersemangat untuk meraihnya.

Waktu tidak terasa sudah lebih dari 1 jam 30 menit, sangat cepat rasanya dan kelas inspirasi ini harus berakhir. “Kak, hari Senin datang lagi ya,” ucap salah satu adik. Terharu mendengarnya karena mereka mengharapkan kami datang lagi. Di akhir kelas inspirasi mereka mencap tangan mereka di atas kanvas dengan cat warna warni dan menuliskan nama mereka serta cita-citanya. Setelah itu mereka berkumpul kembali dengan adik-adik kelas yang lain di lapangan.
Kelas 1 dan kelas 2 pulang terlebih dahulu karena jam pulang mereka adalah jam 10.00 sedangkan waktu sudah menunjukkan jam 11.00. Adik-adik kelas 3 sampai kelas 6 tetap berada di lapangan. kak Anggi menanyakan kepada adik-adik apakah senang mengikuti kelas inspirasi dan mereka semua serentak menjawab, “senang.”

Lalu kak Anggi menyerahkan kepada kak Nita untuk mengajak adik-adik berjoget dengan backsound lagu anak-anak Korea yang berjudul Olchaengi. Mereka semua sangat senang bahkan ketika lagu itu selesai, mereka berteriak “Lagi kak, lagi.” kak Nita pun mengulangi gerakannya dan mereka mengikuti dengan antusias.
Selesai dengan gerakan lagu Olchaengi, kami pun semua menyanyikan lagu “Guruku Tersayang” yang dipersembahkan untuk para guru, adik-adik menyanyikan dengan penuh semangat dan para guru terlihat terharu.

Acara pun ditutup dengan kesan pesan dari pihak sekolah dan panitia serta pemberian hadiah untuk para guru dan sekolah, sementara adik-adik mendapat goody bag berupa perlengkapan sekolah. Di akhir acara kami pun foto bersama.
Tanpa terasa perpisahan pun harus terjadi, adik-adik satu persatu menyalami kami. Semoga kalian semua sukses dan meraih apa yang kalian cita-citakan, tetap semangat dan rajin belajar serta tidak lupa untuk selalu berdo’a. 

Kamis, 11 Desember 2014

My Dream Comes True - Part 3 (END)




Sampai di tenda kami langsung masak untuk makan siang, setelah makan kami lanjutkan dengan bongkar tenda dan repacking perlengkapan kami. Tepat Jam 13.00 kami turun dari Savana 1 menuju basecamp. Sebelumnya kami berdo’a terlebih dahulu, agar perjalanan turun lancar dan aman. Sesampainya di track yang ekstrim di Savana 1 bayangan kali ini yang salah jalur adalah Mega dan bang Arya. Mereka melewati track yang lebih ekstrim, sedangkan mba Asih tidak mau mengulangi kejadian yang sama dan lebih memilih track yang agak lebih aman dan setia mengikuti dibelakang bang Dede hehe. Tetap aja sudah memilih track yang aman tapi ini adalah pertama kalinya mba Asih jatuh di track, biasanya selalu saya duluan yang jatuh tapi kali ini tidak di Merbabu.

Sampai di Pos 3 hujan mulai turun rintik-rintik, dan bang Dede menginstruksikan kepada kami untuk memakai raincoat. Saya pikir hujannya sama seperti pada saat naik, hanya sebentar, ternyata hujan tidak berhenti dan semakin deras. Perjalanan turun yang harusnya bisa lebih cepat daripada naik, menjadi lebih lambat karena track yang licin sehingga membuat kami harus berjalan perlahan-lahan.

Entah karena saya yang fokus dengan track yang licin dan berjalan lambat atau memang mereka yang berjalan cepat, karena pas menuju pos 2 saya sudah tidak melihat Gita, bang Umam, Mas Bambang dan Mas Faqih. Saya bersama Mba Asih dan bang Dede sedangkan Mega, Dicky dan bang Arya ada di depan kami. Nchink, A’Iwan, bang Ase dan bang Dziyau mereka masih di belakang kami.

Akhirnya, record saya yang selalu terjatuh pada saat turun di setiap pendakian pun terjadi juga di Merbabu. Bang Dede menolong saya, dan kemudian bang Dede bergantian menjaga saya dan mba Asih karena sudah tidak ada lagi yang lain. Di Pos 2 bayangan, Mega, Dicky dan bang Arya menunggu kami. Selanjutnya dengan kondisi hujan yang tidak juga berhenti, kami tetap melanjutkan perjalanan. Menuju pos 1 kembali saya terjatuh. Ya kalau dihitung ada tiga kali saya jatuh di track Merbabu. Sepertinya mbah Merbabu tidak rela kalau saya tidak jatuh di tracknya hehe.


Perjalanan menuju Pos 1, Mega, Dicky dan bang Arya sudah tidak terlihat, hanya tinggal kami bertiga. Bang Dede bergantian menjaga kami. Kami bertiga entah kenapa menjadi diam membisu, tak ada satu pun pembicaraan diantara kami. Intinya diam dalam hujan hehe.

Hujan turun, air berlimpah tapi yang saya rasakan adalah dehidrasi dan lapar. Di tas sudah tidak ada makanan sama sekali hanya tinggal satu batang coklat. Di saat kami masih terdiam dalam hujan, muncul bang Dziyau dari belakang, ternyata bang Dziyau bisa menyusul kami. Kami berempat berjalan bersamaan. Bang Dede pun akhirnya bisa ngobrol dengan bang Dziyau hehe.

Setiap saya bilang “Istirahat dong bang”, bang Dede jawabnya “nanti di Pos 1 ya nanggung nih”. Oke lah. Sampai di Pos 1 bang Dede dan bang Dziyau berhenti, tapi saya dan mba Asih malah tetap melaju melanjutkan perjalanan hehe. Mungkin bang Dede dalam hati bilang “tadi minta istirahat pas udah nyampe Pos 1 malah ngucluk aja”.

Baru kali ini saya merasa kesal, kesal karena merasa fisik sudah tidak kuat dan perjalanan seperti sangat lambat, tapi saya buru-buru istighfar. Dalam kondisi seperti itu, ternyata saya baru menyadari mba Asih sudah tidak ada lagi di depan saya, sedangkan bang Dede dan bang Dziyau mereka masih di Pos 1. Allahu Akbar, rasa khawatir mulai merasuki pikiran saya. Kondisi hujan dan sore membuat saya semakin mempercepat langkah untuk mengejar mba Asih karena kalau harus menunggu bang Dede dan bang Dziyau tidak mungkin, karena saya tidak berani sendirian duduk di track dalam kondisi hujan. Alhamdulillah akhirnya saya melihat mba Asih yang sedang menunggu. Kami pun menunggu bang Dede dan bang Dziyau. “Aku lapar wie, perutku krucuk-krucuk” kata mba Asih. “Aku masih ada coklat mba” jawabku sambil mengeluarkan coklat, kemudian coklat dibagi dua, lumayanlah sebagai pengganjal rasa lapar.

Bang Dede dan bang Dziyau datang menyusul kami, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Entah mungkin karena fisikku yang mulai drop sepertinya langkahku semakin melambat dan tidak bisa mengejar mba Asih. Akhirnya bang Dede pun sepertinya memutuskan untuk menyusul dan menemani mba Asih, sedangkan saya jalan dengan bang Dziyau. Bedanya kali ini bang Dziyau membuka obrolan, jadi sepanjang perjalanan kami selalu ngobrol dan tidak ada diam dalam hujan hehe.

Setelah mendekati wilayah yang ada tulisan “Wilayah Konservasi” hati mulai lega dan berucap Alhamdulillah sebentar lagi sampai. Dan dibelakang sudah muncul Nchink, A’Iwan dan bang Ase. Wah ternyata memang saya yang berjalan sangat lambat kali ini. Kami pun segera bergegas menuju gerbang Merbabu dan melaju menuju basecamp Pak Parman. Jam 16.30 kami sampai di basecamp dan di sana teman-teman yang sudah sampai duluan sudah enak bersantai sambil ngopi dan tertawa menyambut kami.

Saya bergegas membongkar isi tas saya dan merapikannya dan segera membersihkan diri. Setelah beres semua, saya bergabung dengan teman-teman yang lain. Malam ini diputuskan kalau kami akan menginap di basecamp dan besok pagi jam 9 baru berangkat menuju Yogyakarta. Malam itu masih ditemani hujan kami mengobrol mengenang kembali moment-moment selama pendakian bahkan ada juga ledekannya. Berhubung pas turun kami tidak bareng, jadi setiap masing-masing memiliki cerita yang berbeda-beda dan diantara kami semua hanya bang Umam yang berjalan sendirian. Malam semakin larut kami pun bergegas untuk tidur.

Pagi Jam 5 saya sudah terbangun, setelah selesai sholat Subuh saya sudah tidak melihat mba Asih dan Gita. Udara pagi itu sangat segar sekali saya segera membereskan barang-barang saya yang ternyata masih basah dan bang Umam pun memberikan saran lebih baik dijemur dulu. Saya pun langsung menjemur tas, sepatu, jaket dan raincoat di halaman basecamp. Alhamdulillah cuaca bersahabat dan mentari memberikan sinarnya yang hangat.

Mba Asih dan Gita baru saja tiba, mereka ternyata berjalan pagi bersama Mas Bambang, sedangkan Nchink ngedate berdua sama A’Iwan, maklum pengantin baru hehe. Dan Merbabu kali ini adalah honeymoonnya mereka berdua, berhasil juga racunku hehe.

Sarapan kami pagi ini adalah Soto Ayam, dan bukan lagi telur dadar hehe. Selesai sarapan saya mengajak Nchink untuk berfoto di gerbang Merbabu. Saat kami berjalan, tiba-tiba ada yang memanggil nama saya “Mba Dwi” saya pun segera menengok dan mencari siapa yang memanggil, ternyata Muly sudah senyum di belakang. Akhirnya bisa ketemu juga dengan Muly, yang awal rencananya Muly mau bareng dengan kami, karena kehabisan tiket akhirnya dia ikut rombongan sepupunya. Kami pun berfoto-foto di Gerbang Merbabu. Setelah itu kami kembali ke basecamp.
With Muly
Alhamdulillah semua yang basah sudah kering kecuali sepatu masih lembab, kami pun repacking karena waktu sudah menunjukkan jam 8.30. Sebelum pulang saya sempat membeli oleh-oleh berupa emblem, gantungan kunci, pin dan sticker Merbabu. Tepat jam 9.00 kami meninggalkan basecamp Pak Parman. Mobil kami perlahan menjauh dari Gunung Merbabu. Saya tidak akan pernah mengucapkan “Selamat Tinggal” pada Merbabu karena suatu saat nanti saya akan kembali lagi.

Sampai di Yogyakarta kami di drop di Malioboro, sedangkan bang Ase, bang Dede dan bang Umam langsung ke Stasiun Lempuyangan untuk mencari tiket. Karena kami sudah punya tiket pulang, kami memilih berjalan-jalan di Malioboro dan singgah di rumah makan untuk mencicipi gudeg. Setelah selesai makan, kami berpisah dengan Gita karena Gita pulang ke Jakarta hari Senin dan dia akan menginap di kost temannya.


Kami pun mencari oleh-oleh, karena Mega, Dicky dan bang Arya masih mau kulineran, saya, Mba Asih, Nchink dan A’Iwan memilih mencari oleh-oleh di Pusat Oleh-oleh. Bang Dziyau bergabung dengan Mega karena bang Dziyau akan langsung menuju terminal. Dan kami berjanji akan bertemu langsung di Stasiun Lempuyangan.

Setelah puas berbelanja dengan kondisi lelah, kami memutuskan langsung ke Stasiun Lempuyangan sehingga bisa beristirahat di sana. Sesampai di Stasiun, kami berkumpul dengan bang Ase dkk dan Mega dkk.

Kami naik kereta Gaya Baru Malam yang akan berangkat jam 16.56 sedangkan bang Ase dapat tiket Jaka Tingkir dan berangkat jam 17.00. Jam 16.30 kami semua memasuki peron stasiun dan berpisah dengan bang Arya yang menunggu travel untuk membawanya kembali ke Semarang. Setelah menunggu, ternyata kereta kami delay selama 15 menit.

Kereta GBM pun tiba, setelah berpamitan dengan bang Ase, bang Dede dan bang Umam, kami segera naik ke dalam kereta dan mencari tempat duduk. Alhamdulillah pendakian kali ini berjalan dengan aman dan lancar serta mendapatkan saudara baru. Kereta pun berjalan meninggalkan Stasiun Lempuyangan  menuju Stasiun Senen dan ini artinya kami akan kembali ke dunia rutinitas kami.

Terima kasih buat Wisata Gunung (bang Ase dan bang Dede) yang sudah memfasilitasi sehingga saya khususnya dan teman-teman yang lain bisa menyapa Puncak Gunung Merbabu, dan tiga travelmateku Mba Asih, Nchink dan A’Iwan yang selalu menemaniku dalam setiap perjalanan,  serta teman-teman yang lain Gita, Mega, bang Arya, bang Umam, bang Dziyau, Dicky, mas Bambang dan Mas Faqih terima kasih atas kebersamaannya karena kalian luar biasa. Tak lupa untuk pak Jupri porter kami yang baik dan Pak Parman atas keramahannya. Sampai ketemu lagi di next trip.

THE END..

My Dream Comes True - Part 2




Padang Savana Merbabu

Setelah itu kami beristirahat. Waktu terus berjalan, malam terus berputar, di luar tenda masih terdengar suara-suara orang yang sedang mengobrol. Selain tenda kami memang ada empat tenda lainnya, sebenarnya ingin rasanya keluar tenda dan melihat alam sekitar, apakah ada rising star atau tidak tapi rasa lelah mengalahkan segalanya, yang membuat badan ini enggan sekali beranjak dari sleeping bag.

Entah jam berapa tiba-tiba mendengar suara bang Umam “Ayo sudah jam 3 nih, siapa yang mau summit?” ucapnya sambil tertawa. Masih dengan kondisi antara tidur dan tidak, saya melihat jam “Udah jam 3 tah” dan kulihat Gita masih tetap tertidur pulas, hebat ini anak tidurnya bisa pulas hehe. Nchink terlihat merem melek hehe. Saya mengabaikan suara bang Umam dan tetap memilih meringkuk di dalam sleeping bag walaupun mata sudah tidak bisa terpejam lagi. Setelah berapa lama di luar tenda mba Asih memanggil “Wie, Dwi udah bangun belum, aku masuk ya”. Antara percaya dan tidak percaya sambil bergumam “Tumben mba Asih dingin-dingin keluar tenda, biasanya kan kalau udara dingin lebih suka di dalam sleeping bag”, “Iya mba, aku udah bangun, masuk aja” balasku. Mba Asih pun masuk ke dalam tenda. “Enaknya tenda kalian hangat banget, di tendaku dingin banget” Ujar mba Asih begitu masuk ke dalam tenda. “Iya mba, kita kan pakai matras alumunium jadi hangat” Jawabku sambil tertawa diikutin Nchink yang juga sudah terbangun.

Waktu Subuh tiba, kami pun menunaikan ibadah Sholat Subuh. Setelah itu kami bersiap memasak untuk sarapan. Kata mba Asih “Masak dulu Wie baru lihat sunrise” “Ok mba” Jawabku. Di saat sedang mempersiapkan bahan-bahan makanan yang akan dimasak, sang matahari mulai memperlihatkan keindahannya, hati ini mulai tergoda untuk melihatnya. “Mba Asih maaf ya aku foto sunrisenya dulu baru nanti dilanjut lagi masaknya” Ujarku sambil senyum dan berlalu. Saya seperti anak nakal yang lari dari tanggung jawabnya hehe. 

Sunrise Merbabu

Keindahan Merapi dari Merbabu

Saya pikir mba Asih akan mengikutiku ternyata Mba Asih kali ini tidak tergoda oleh keindahan sunrise dan lebih memilih menemani Nchink dan bang Dede memasak. Oh baiknya mba Asih (padahal pas udah pulang mba Asih baru nyesel karena ga foto sunrise hehe). Saya dan Gita langsung bergabung dengan Mega, bang Umam dan bang Arya mengabadikan keindahan sunrise dengan background si Gagah Merapi. Tak henti-hentinya saya mengucapkan Subhanallah atas keindahan ciptaanNya. Setelah puas berfoto, saya dan Gita pun langsung membantu mba Asih, Nchink dan bang Dede memasak.

Mba Asih memasak nasi dan sayur asam, Nchink menghandle ikan asin, bang Dede dan Gita menggoreng tempe, tahu dan sosis, A’Iwan memasak air untuk membuat kopi dan saya sendiri kebagian membuat roti tawar yang diolesin pasta coklat untuk mereka. Menu sarapan yang yummy sekali. Makanan sudah matang, kami pun bersama-sama sarapan.


Aduh Chef.. masaknya jangan pakai sendal donk.. hahaha

Selesai sarapan kami pun bersiap untuk melanjutkan tracking ke puncak. “Ok, sudah siap semuanya? Kalau sudah siap semuanya mari kita berangkat” ucap bang Ase. Seperti biasa kami berdo’a terlebih dahulu. Kami pun meninggalkan Pak Jupri yang akan menjaga tenda kami. Sepanjang jalan hamparan savana begitu indah, jadi semakin cinta dengan Merbabu. Track yang landai mengantarkan kami ke Savana 2, kami pun berfoto-foto sebentar di sana. Lalu kami melanjutkan kembali perjalanan. Setelah melewati Savana 2 mulai terlihat pohon-pohon edelweis yang ukurannya tinggi-tinggi, ada yang sampai 2-3 meter ukurannya. Sayang pada saat itu edelweisnya banyak yang sudah kering dan ada juga yang tidak berbunga, tapi Alhamdulillah saya menemukan satu tangkai edelweis yang masih segar. Kamera pun langsung mengabadikan “Edelweis Merbabu”.
 Si Cantik Edelweis Merbabu

Edelweis dengan ukuran 2-3 meter
Setelah melewati pohon-pohon Edelwies, saya dan teman-teman tercengang melihat track menuju puncak. “Ini nih tracknya, wuih gimana nanti turunnya nih”. Belum naik aja udah mikir turunnya hehe. Beneran tracknya wow banget, kemiringannya bikin nafas habis (lebay dikit hehe). Alhamdulillah semalam kami mengambil keputusan yang tepat untuk pergi pagi hari, coba kalau kami tetap summit jam 3 dini hari akan terasa lebih sulit terutama bagi saya yang sangat tidak menyukai track malam. Dengan tekad yang kuat, langkah demi langkah saya jalanin untuk bisa menyapa puncak impian saya. Untuk menghilangkan lelah sesekali saya menjepretkan kamera kemanapun lensa berbicara (padahal niatnya buat beristirahat hehe). Walaupun lelah tapi view yang disajikan benar-benar sangat indah sehingga dapat menghibur. Saya sangat menyukai langit biru dan kali ini Merbabu menyambut saya dengan langit birunya walaupun terkadang sang kabut sesekali menutupinya.

Faqih "Ryan" D-Masiv KW (jaket biru) bersama anggota bandnya.. :p

Alhamdulillah track landai mulai terlihat, kami pun beristirahat sejenak. Ternyata bonusnya cuma sebentar, track selanjutnya sama dengan track yang tadi, kami pun memberi nama “Tanjakan PHP”. Di tengah-tengah perjuangan saya melewati track PHP ini, saya melihat ada seorang akhwat memakai rok membawa keril sangat lihai turun dengan cara melompat dari satu pijakan ke pijakan yang lain bahkan terkadang sambil berlari. Kagum melihatnya dan saat mulai dekat dengan saya, saya berpikir seperti kenal dengan akhwat ini, dan ternyata dia adalah mba Ely. Saya pun memanggil namanya dan mba Ely langsung berhenti dan kaget melihat saya. Kami seperti saudara yang sudah lama terpisah, mba Ely pun berlari menuju saya sambil berteriak memanggil nama saya dan kami pun langsung berpelukan. Teman-teman saya dan para pendaki lain terbengong melihat kehebohan kami hahaha. Kalau dipikir jadi seperti adegan sinetron (bahkan pas di Basecamp saat kita sudah turun, bang Dziyau bilang ingin sekali ketemu teman atau orang yang dia kenal di Gunung sambil heboh hahaha). Setelah berfoto kami berpisah, mba Ely akan turun dan saya sendiri naik ke puncak.
Bertemu dengan akhwat tangguh Mba Ely :)
Bang Dziyau dan bang Arya berhasil melewati Tanjakan PHP

Dengan adanya intermezo sejenak, membuat semangat saya muncul kembali (padahal mah karena istirahat yang lumayan lama), saya pun bisa melewati track PHP. Puncak Kentheng Songo mulai terlihat, Dicky yang berjalan lebih dulu sudah melambai-lambaikan tangannya dari Puncak Kentheng Songo. Jadi tambah semangat untuk berlari tapi karena track yang sempit dan hanya dapat dilalui satu orang, dengan sabar saya berjalan perlahan-lahan.
With my travelmate

Saat kaki menginjak Puncak Kentheng Songo, tak ada lagi yang terucap selain Alhamdulillah, Subhanallah dan finally saya sampai di Puncak impian saya “Puncak Merbabu 3.142 Mdpl”. 3 jam perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai ke Puncak Kentheng Songo. Bang Ase sebagai tour leader kami mengucapkan selamat kepada kami satu persatu. Ya, kami memang sudah ada di Puncak sekarang.
Puncak Kentheng Songo

Merbabu sangat istimewa buat saya, karena Merbabu adalah gunung pertama yang membuat saya terkesan dan yang membuat saya menyukai kegiatan mendaki dan terlebih lagi pada saat saya sampai di puncak, sahabat saya Yunissa berulang tahun. Saya sudah menyiapkan ucapan untuk diabadikan di Puncak Kentheng Songo. Terima kasih Yunissa sudah menjadi sahabat yang baik selama 11 tahun ini. Semoga persahabatan kita akan abadi sampai akhirat nanti. Aamiin

Happy bday Yunissa

Selain itu pada hari sebelumnya teman naik gunung saya dan Nchink yang namanya Hanif juga sedang melangsungkan pernikahannya. Tadinya Hanif yang akan membawa kami berdua ke Merbabu, tetapi karena waktu yang tidak pas akhirnya selalu tertunda. Kami hanya bisa mengucapkannya di Puncak Kentheng Songo. Selamat ya Hanif dan Reni. 

Dan lebih menyebalkan, saya tidak memperhatikan KTP mba Asih sewaktu memesan tiket, ternyata tepat kami di puncak, mba Asih berulang tahun dan kami mengetahuinya setelah sampai di rumah masing-masing (di kereta pas pulang, kami ditraktir mba Asih tetep aja masih ga nyadar). Maafkan saya ya my travelmate. Khilaf banget.
Mba Asih yang merayakan sendiri ultahnya tanpa diketahui yang lain di Puncak Kentheng Songo (Photo By Mb Asih)

Kami semua menikmati lukisan alam yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Merbabu memang benar-benar indah walaupun sang kabut tetap masih suka menggoda. Satu persatu kami mulai berfoto dengan watermark Kentheng Songo, kami habiskan waktu di Kentheng Songo dengan berfoto-foto. 
 Wisata Gunung di Puncak Kentheng Songo (Photo by Mega)

Empat Sekawan.. :) (Photo by Mb Asih)

Setelah puas di Puncak Kentheng Songo, bang Ase membawa kami ke Puncak Trianggulasi, jaraknya tidak terlalu jauh dari Puncak Kentheng Songo. Di sana kami makan snack dan mangga yang kami bawa sambil menikmati keindahan Merbabu. Sayang dari ketiga puncak, kami tidak ke Puncak Syarif karena waktu yang tidak cukup dan kami harus segera kembali ke tenda. Seperti biasa di setiap pendakian selalu saja ada yang kurang yang menandakan saya harus kembali lagi.

Setelah puas menikmati keindahan alam Merbabu, bang Ase menginstruksikan kepada kami agar kami bergegas turun. Kami pun langsung segera turun kembali ke tenda. Tepat di track PHP yang membuat nafas kami tersengal pada saat kami naik, ternyata pas turun tidak sesulit apa yang kami bayangkan, tapi tetap keseimbangan harus dijaga agar tidak terjatuh.

To be countinued..