Rabu, 06 April 2016

Pesona Talaga Bodas Garut

Kawah Talaga Bodas - Garut




Perjalanan saya kali ini adalah Talaga Bodas yang terletak di wilayah kabupaten Garut, talaga yang kecantikan dan keindahannya masih tersembunyi tertutupi oleh Gunung Talaga Bodas yang memiliki ketinggian 2201 mdpl.

Saya bersama Bi Iffa menuju Darussalam karena teman saya Aa Tata dan Ghufron akan menjemput kami di Darussalam. Dengan menggunakan motor kami berempat menuju Talaga Bodas, jalur yang kami lewati memang tidak luas tapi mobil masih bisa masuk untuk menuju Talaga Bodas. Selama perjalanan dibentangkan oleh pemandangan yang indah dan juga perkebunan milik warga. Kurang lebih 1 jam kami sampai di gerbang Taman Wisata Alam Talaga Bodas.

Tiket masuk Talaga Bodas
Tiket masuk untuk hari libur sebesar Rp. 7.500 dan untuk kendaraan bermotor dikenakan biaya sebesar Rp. 7.500. Setelah parkir motor, kami menuju talaga dengan berjalan kaki hanya 15 menit. Saat kami tiba, terlihat talaga yang bersulfur berwarna putih begitu indah dihiasi langit berwarna biru cerah dan sentuhan awan putih menambah keindahan Talaga Bodas.
 
View Talaga Bodas
Talaga Bodas
Tak bosan saya duduk berlama dipinggir talaga dan sesekali kamera membidik keindahan talaga. Selain talaga di sekitar sana juga terdapat Kawah Saat yang artinya kawah yang sudah kering dan apabila ingin kemping kita bisa mendirikan tenda di area Kawah Saat, selanjutnya bisa tracking ke puncak Beuti Canar dengan waktu tempuh 2,5 jam dari talaga.

Bi Iffa dan Ghufron
Saya dan Bi Iffa
Karena Bi Iffa sudah pernah ke Kawah Saat, ibi memutuskan tidak ikut dan hanya saya, Aa Tata dan Fikri (menyusul kami ke Talaga Bodas) yang menuju Kawah Saat, sedangkan Ghufron menemani Bi Iffa. Dari Talaga ke Kawah Saat hanya 25 menit dan disana ada lahan kosong dan disitulah dulu letak kawah yang kini sudah kering. Saat kami tiba disana ada rombongan dari Jakarta yang sedang berkemah. Kemudian kami melanjutkan menuju track ke puncak Beuti Canar. Karena waktu sudah hampir sore, saya memutuskan tidak melanjutkan ke puncak dan  kembali ke talaga.
 
Kawah Saat
Kawah Saat
Track menuju puncak Beuti Canar
Aa Tata mengajak saya ke air terjun dan kolam pemandian air panas Talaga Bodas. Air terjun terletak tidak jauh dari pemandian air panas, air terjun tidak terlalu tinggi tapi air yang jatuh bisa menyegarkan kembali. Sedangkan kolam pemandian air panas saat itu ada beberapa orang yang menikmati panasnya air beraroma belerang. Setelah saya puas bermain di air terjun, kami kembali ke talaga. 
Air terjun
Track menuju pemandian air panas dan air terjun
Dari kolam air panas menuju talaga, saya melihat banyak rumput ilalang yang dibuat simpul. Aneh tapi unik, kata Aa Tata itu mitos bagi pasangan yang datang ke Talaga Bodas, mereka akan menyimpulkan rumput ilalang dan kisah mereka tidak akan terpisahkan. Memang yang namanya mitos cepat sekali menyebar dan banyak orang yang mempercayainya. Saya pun iseng menyimpulkan rumput ilalang dengan tujuan agar saya bisa kembali lagi ke Talaga Bodas.
 
Mitos simpul rumput ilalang
Lalu Aa Tata mengajak saya ke area endemik tanaman Kantong Semar. Banyak sekali tanaman Kantong Semar disana, dan sepertinya area itu masih terjaga kelestariannya. Semoga bagi yang menemukan area Kantong Semar tidak akan merusaknya karena yang mengaku pecinta alam tidak akan pernah berniat untuk merusak alam apalagi untuk melakukannya.
Kantong semar
Kantong Semar

Setelah puas berkeliling area Talaga Bodas, kami kembali ke talaga. Bi Iffa dan Ghufron sedang menyeduh kopi dan kami langsung bergabung untuk memasak mie rebus. Hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk kembali karena saya harus pulang ke Jakarta hari itu juga. Sebelum pulang kami menanam pohon manglid yang sudah Aa Tata bawa. Senang bisa punya pohon di Talaga Bodas.

Menanam pohon
Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung dan hujan pun turun dengan derasnya. Walaupun hujan kami tetap melanjutkan perjalanan kami. Talaga Bodas kawah yang sangat indah, semoga saya bisa kembali lagi untuk menyapa puncak Beuti Canar. 

Talaga Bodas



Rute Angkutan umum menuju Talaga Bodas :
1. Dari Terminal Guntur naik angkot wanaraja 07 warna coklat putih turun di belokan talaga bodas pantokannya Masjid Wanaraja
2. Dari belokan Talaga Bodas naik ojek PP 100rb kalau bisa nawar lebih hemat lagi, nanti tukang ojeknya akan nungguin di parkiran Talaga Bodas.  

Selasa, 29 Maret 2016

Berbagi Keceriaan di Ponpes Modern Nurul Haramain

Foto Bersama
Pondok Pesantren Modern Nurul Haramain yang terletak di Kampung Saitem Cigombong Bogor menjadi tujuan bagi teman-teman "Fun & Care Traveller" untuk berbagi keceriaan. Mbak Heni Sri Sundari atau yang lebih dikenal dengan Inspirasi Jaladara di media sosial adalah pendiri Komunitas Agro Edu Jampang, dari beliau akhirnya kami bisa sampai di Ponpes Modern Nurul Haramain.


Bibit Pohon Abasiah
Jam 10.00 WIB kami sampai di Ponpes Modern Nurul Haramain dan disambut oleh mbak Dara dan suaminya mas Adit serta adik-adik pesantren. Berhubung karena hari sudah semakin siang kami segera mengambil bibit pohon dan melangkah menuju lahan gundul akibat dari penambangan pasir dan batu ilegal. Pemandangan menuju lokasi lahan sebenarnya sangat indah tapi ternoda oleh lubang-lubang besar akibat dari penambangan pasir dan batu yang ilegal. Berdasarkan informasi dari mbak Dara biasanya daerah penambangan itu penuh oleh buruh-buruh penambang yang bekerja tapi hari ini sepi dikarenakan hari Jum'at adalah hari libur.
Lahan penambangan pasir ilegal

Menuju Lahan Penanaman Pohon
Kami tiba di lahan yang sudah gundul dan satu persatu dari kami mulai menanam bibit pohon Abasiah yang sudah kami bawa. Ada beberapa penambang yang melihat kegiatan kami dan mereka merupakan orang tua dari siswa-siswa yang bersekolah di Ponpes Nurul Haramain. Disaat kami sedang menanam pohon, terlihat batu-batu besar berjatuhan dari atas bukit, ternyata ada beberapa penambang yang tetap bekerja walaupun di hari libur. Batu itu ditambang secara manual dan dijatuhkan kebawah dan akan diangkut ke dalam truk. Menurut informasi dari mbak Dara bahwa karena kurangnya keselamatan kerja bagi buruh, banyak sekali buruh yang meninggal karena tertimbun ataupun tenggelem ke kubangan bekas galian dan kehidupan mereka sangat memprihatikan, dan mereka hanya makan dengan rebusan daun singkong dengan osengan garam.

Mbak Dara dan Adik Novi diliput DAAI TV
Penanaman Pohon
Selesai kami menanam pohon, adik-adik putra dan para cowok kembali ke pesantren untuk melaksanakan ibadah Sholat Jum'at dan bagi adik-adik putri melakukan kegiatan karate, saya dan teman-teman pun mengikuti adik-adik putri untuk melihat kegiatan mereka. Sesampainya di halaman villa yang kosong, adik-adik pun segera berbaris dan mulai berlatih karate.

Latihan Karate
Latihan pun selesai, kami segera kembali ke pesantren. Sebelum ke acara selanjutnya kami menunaikan ibadah sholat Dzuhur dan makan siang bersama di saung dengan menu ikan pesmol, sayur asam, lalapan dan sambal yang lezat. Sholat Dzuhur sudah, makan siang sudah, kami pun membagi menjadi dua acara. Bagi adik-adik putra akan mengikuti kegiatan Penyuluhan Bank Sampah yang akan disampaikan oleh kak Uut, sedangkan adik-adik putri akan mengikuti kegiatan Kreasi Prakarya membuat figura photo yang akan dibantu oleh kak Asih. Kak Uut dan kak Asih dibantu oleh kakak-kakak yang lainnya menemani adik-adik.

Penyuluhan Bank Sampah oleh kak Uut
Pembuatan Prakarya oleh kak Asih
Kak Uut menyampaikan pembagian sampah dan cara pengelolaannya, sedangkan kak Asih menyampaikan tahapan-tahapan dalam pembuatan figura. Mereka semua sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini. Selesai kegiatan semua berkumpul di masjid pesantren untuk penyerahan hadiah bagi pemenang pembuatan kreasi terbaik dan juga penyerahan donasi dari pihak Fun & Care Traveller kepada pihak Pondok Pesantren Nurul Haramain. Kemudian acara ditutup oleh Mbak Dara dan diakhiri dengan foto bersama.

Penyerahan Donasi

Penyerahan Hadiah
Penutupan oleh Mbak Dara
Terima kasih untuk adik-adik yang sudah berbagi keceriaan bersama kami dan semoga silaturahmi ini tetap berlanjut. Terima kasih juga untuk mbak Dara dan mas Adit yang sudah menyatukan silaturahmi ini dan kalian akan menjadi inspirasi bagi kami untuk selalu berbagi dan tidak akan pernah berhenti untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Foto Bersama



Senin, 22 Februari 2016

Luragung Pun Akhirnya Menyerah

Bus Luragung (Sumber Google)
Liburan Imlek tahun ini saya agenda kan untuk bersilaturahmi ke rumah mbak Dedeh Handayani di daerah Kuningan Jawa Barat. Sebelum berangkat saya sudah bertanya terlebih dahulu ke mbak Dedeh untuk transportasi menuju Kuningan. Mbak Dedeh menyarankan naik bus Luragung karena bus tersebut sangat cepat dan mbak Dedeh memberikan beberapa alternatif jadwal keberangkatan bus Luragung, setelah saya menimbang akhirnya saya putuskan untuk naik bus Patas AC Luragung Jaya Termuda dari terminal Depok karena hanya dari Depok dan Bogor saja yang tersedia bus AC sedangkan dari terminal lainnya adanya hanya bus ekonomi.

Jam 19.00 WIB bis AC berangkat dari terminal Depok, begitu yang tertulis di jadwal keberangkatan yang dikirim mbak Dedeh via Whatsapp. Saya berencana jam 16.00 berangkat menuju terminal Depok agar bisa mendapatkan tiket dan ternyata disaat saya akan berangkat cuaca yang tadinya sangat panas seketika berubah 180 derajat, langit menjadi hitam pekat disertai dengan kilat yang menggelegar dan tak lama kemudian hujan turun.

Bus Luragung Patas AC (Sumber Google)
Mbak Dedeh berinisiatif menelpon Luragung Depok untuk memesan satu tiket dan ternyata bus AC akan berangkat jam 17.00 WIB tidak sesuai dengan jadwal karena penumpang sudah penuh dan saya ditawarkan naik yang ekonomi. Saya akhirnya menolak karena kondisi masih hujan, kalaupun harus naik ekonomi saya memutuskan untuk pergi besok pagi dengan bus Luragung paling pagi jam 05.00 WIB dari terminal Pasar Minggu.

Jadwal Keberangkatan Bus Luragung Terminal Depok (Sumber WhatsApp Mba Dedeh)
Jam 04.00 WIB saya memesan Gojek dan orderan berkali-kali saya cancel karena tak kunjung mendapatkan driver, disaat saya hendak memesan kembali, driver Gojek menghubungi saya. Saya bilang kalau yang saya pesan barusan sudah saya cancel tapi driver bilang orderan saya masuk. Okelah mungkin saya yang salah dan driver pun datang, sang driver bilang kalau ternyata memang pesanan saya sudah dicancel. Karena waktu sudah mepet, driver menawarkan biaya reguler sebesar 25k (salut dengan driver Gojek yang tetap jujur walaupun sebenarnya bisa mengambil kesempatan untuk menaikan tarif) , saya setuju dan langsung menuju terminal Pasar Minggu .

Tepat jam 04.35 WIB saya tiba di terminal Pasar Minggu yang sangat ramai karena berdekatan dengan pasar yang selalu buka di dini hari. Saya masuk ke terminal dan menanyakan bus Luragung dan ternyata bus Luragung sudah jalan 5 menit yang lalu. Lagi-lagi saya dikecewakan oleh bus Luragung karena keberangkatannya tidak sesuai dengan jadwal (rasanya lebih nyesak daripada dikecewakan seseorang :p) . Berhubung bus Luragung hanya satu kali keberangkatan dari terminal Pasar Minggu, saya langsung menuju terminal Kampung Rambutan. Semoga masih bisa naik bus yang pertama.

Sesampainya di terminal Kampung Rambutan, saya segera menunaikan ibadah sholat Subuh. Sambil memakai sandal gunung saya menanyakan jadwal bus Luragung ke penjaga Musholla, kata beliau yang kebetulan orang Kuningan bilang kalau yang pertama sudah berangkat dari jam 05.00 sedangkan bus yang kedua sebentar lagi lewat dan ternyata memang benar tidak lama saya menunggu bus Putra Luragung lewat. Saya memilih tempat duduk di depan dekat pintu agar lebih mudah bertanya ke supir ataupun kondektur karena ini pengalaman pertama saya sendirian ke Kuningan menggunakan bus.

Bus Putra Luragung (Sumber Google)
Berdasarkan cerita dari teman-teman dan membaca dari beberapa blog kalau bus Luragung itu super cepat dan terkenal ngebut dan suka ngeblong. Deg-degan juga sih, apa iya sampai segitunya. Dari terminal sampai Pasar Rebo, laju bus masih normal mungkin karena sambil mencari penumpang. Setelah memasuki tol yang pada pagi hari itu sangat lancar, laju bus pun sedikit demi sedikit mulai kencang. Saya sampai menghitung berapa bus antar kota yang berhasil dilewati Luragung. Terkadang zigzag, terkadang melaju lurus dan kecepatan yang tidak dikurangin benar-benar bikin sport jantung, sampai saya berpikir kalau supir bus Luragung cocok juga menjadi pembalap.  


Bus ternyata tidak masuk tol Cipali dan lewat Pantura, sempat kecewa karena pasti lebih lama sampainya. Alhamdulillah jalur Pantura ternyata lancar dan bus tetap melaju dengan cepat walaupun tidak secepat di tol dan saya suka karena bus Luragung tidak ngetem. Ketika memasuki wilayah Indramayu, ada bus yang mengoper penumpangnya ke bus kami dan penumpangnya itu sangat banyak membuat bus kami menjadi overload. Bisa dibayangkan bagaimana sesaknya dan panasnya kondisi di dalam seperti ikan pindang di dalam panci. Sudah penuh, panas belum lagi asap rokok yang mengepul dari orang-orang yang egois. Beginilah suasana bus ekonomi.

Masuk wilayah Cirebon, penumpang sudah banyak yang turun sehingga bisa bernafas dengan lega. Laju bus masih tetap sama hingga sampai desa Panawuan, saya merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi bus Luragung. Bus mulai melaju sangat lambat sesekali terkadang berhenti, supir meminta kondektur untuk mengecek tangki solar dan solar masih banyak. Pak Supir mencoba menjalankan bus dan kemudian bus pun berhenti kembali. Kondektur memeriksa mesin bus dan entah apa yang dilakukannya, yang saya lihat kondektur sedang mengutak atik mesin (anak kecil juga tahu ya hehe).

Bus Luragung yang tadinya gagah melaju dari Jakarta dengan kencang bak mobil pembalap yang berusaha untuk menikung mobil balap lainnya dan bisa jadi akan menjadi juara ternyata pada akhirnya harus menyerah pada dirinya sendiri alias mogok sebelum garis finish yang hanya berjarak beberapa meter dari pandangan mata.

Dan kami sebagai penonton alias penumpang hanya bisa pasrah berpindah ke bus lainnya untuk mencapai garis finish.

Rabu, 30 Desember 2015

Arti Kebahagiaan dan Kesedihan (Kehilangan Part 1)

Bandara Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah
Sebelum keberangkatanku menunaikan ibadah umroh, saya selalu bersemangat cerita tentang kerinduan untuk menjadi tamu Allah SWT ke bapak dan beliau akan sangat antusias mendengarnya, dan saya berjanji nanti tahun 2016 akan menunaikan ibadah umroh bersama bapak dan beliau meng-Aamiin-kannya.

Pada hari keberangkatanku tanggal 25 Februari 2015, saya pamit kepada bapak dan beliau meridhoi kepergianku dengan senyum. Kucium tangan beliau dengan lembut sambil berkata "Pak, Dwi pamit ya dan mohon do'anya semoga semuanya lancar". "Iya, hati-hati di jalan ya nduk" ucap beliau.

Bismillah, saya pun berangkat menuju kota Madinah menggunakan pesawat Saudi Arabia Airlines dengan perasaan senang. Perjalanan menuju kota Madinah memakan waktu 9 jam lamanya, tapi bagi saya itu tidak terasa lama karena selama perjalanan kami selalu bercanda dan pramugara dari Filipina (namanya lupa) yang melayani kami sangat baik.
Rasa syukur dan senang membuatku speachless saat pesawat tiba di kota Madinah. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau panggil hamba untuk menjadi tamu-Mu" ucapku di dalam hati.
Masjid Nabawi
Setelah selesai dengan urusan imigrasi dan bagasi, saya dan teman-teman langsung menuju hotel Jawaharat Al Fairuz. Sesampai di hotel saya langsung mengganti simcard dan  menghubungi bapak untuk mengabarkan kalau saya sudah sampai di Madinah. Bapak sangat senang sekali. Kami mengobrol sangat lama sampai bapak bilang "sudah wi nanti pulsanya habis". Obrolan kami pun berhenti.

Tiga hari di Madinah kuhabiskan waktu di Masjid Nabawi dan Raudhah, selain itu saya dan rombongan juga ziarah ke Makam Hamzah di Jabal Uhud dan ke Masjid Quba serta city tour ke tempat lainnya. 

Tiba waktunya bagiku untuk meninggalkan kota Madinah, kota yang sudah meresap ke dalam hati yang akan selalu dirindukan. Saya bersama rombongan berangkat menuju Masjid Bir Ali untuk mengambil miqot dan langsung menuju Masjidil Haram di kota Mekkah. Tepat jam 8 malam waktu Saudi, kami tiba di Masjidil Haram dan langsung menuju hotel Shofwa Royal Orchid yang berada tepat di depan teras Masjidil Haram. Alhamdulillah saya mendapatkan kamar dengan view menghadap Ka'bah.

Setelah selesai membereskan koper, kami menuju Masjidil Haram untuk melakukan umroh wajib. Umroh dimulai dengan sholat 2 rakaat saat memasuki Masjidil Haram lalu dilanjutkan dengan Thawaf, Sa'i antara bukit Shafa dan Marwah dan diakhiri dengan Thahalul. Hati ini tidak dapat menahan rasa haru saat melihat kokohnya ka'bah berdiri dan banyaknya manusia yg berthawaf.

Masjidil Haram & Zamzam Tower
Selesai thawaf saya sholat sunnah tepat garis lurus menghadap pintu ka'bah yang disebut dengan Multa'zam, dimana apabila kita berdo'a di Multa'zam insya Allah do'a-do'a kita akan terkabul. Di setiap do'a saya selalu ada nama bapak dan mama agar kami bisa bersama-sama melaksanakan ibadah umroh.

Tak lupa saya kembali menelpon bapak dan mama, saya ceritakan pengalaman pertama melaksanakan ibadah umroh dan saya tahu mereka merasakan apa yang saya rasakan.  Di sela-sela percakapan kami selalu terselip do'a semoga kami bisa melaksanakan ibadah umroh dan haji bersama. Cukup lama kami berbicara dan akhirnya telpon pun harus terputus.

Selain melaksanakan ibadah umroh, saya dan rombongan diajak menelusuri sejarah perjalanan Rasulullah SAW dan juga ke Padang Arafah tempat puncaknya ibadah haji. Tetapi lebih banyak waktu kami habiskan dengan beribadah di Masjidil Haram.

Selama empat hari saya menghabiskan waktu di kota Mekkah, begitu banyak hal-hal yang tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata, yang pasti ada ketentraman hati dan rasa aman yang saya rasakan dan saya merasa begitu dekat dengan-Nya.

Tak terasa empat hari berlalu dan tiba saatnya bagi saya untuk kembali ke Tanah Air, sedih sekali harus meninggalkan Al Haram tempat dimana kita sangat merasa dekat dengan-Nya, tempat dimana semua do'a insya Allah akan diijabah, tempat dimana berkumpulnya umat Rasulullah dari seluruh dunia.

Saat di Bandara King Abdul Aziz saya kembali menghubungi bapak untuk mengabarkan kalau saya besok sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta. Berulang kali saya mencoba menghubungi handphone bapak tetap tidak ada yang menjawab. Perasaan saya tidak curiga sedikit pun karena di Jakarta pada saat itu menunjukkan jam 12.00, mungkin bapak masih di masjid karena bapak selalu melaksanakan sholat berjama'ah di masjid.

Akhirnya pesawat Saudi Airlines yang saya tumpangin take off menuju Jakarta. Selama perjalanan sampai tiba di Bandara Soekarno Hatta saya tetap tidak mempunyai perasaan apapun bahkan masih bisa tersenyum, sampai tibanya om saya menjemput. Saya heran kenapa cuma om yang jemput dan tidak ada satupun orang tua dan kakak menjemput. Om hanya mengatakan kalau orang tua dan kakak saya tidak bisa menjemput.

Di perjalanan om saya mengatakan kalau kita tidak pulang ke rumah tapi ke RSCM, saya heran kenapa harus ke RSCM, akhirnya om bilang kalau bapak masuk rumah sakit. Deg, hati saya langsung berdetak kencang dan air mata berurai. Senyum saya hilang dan berganti dengan tangisan. Om menenangkan kalau bapak udah baikan, tapi tetap air mata ini tidak bisa berhenti.

Sesampainya di rumah sakit, mama langsung memeluk saya sambil menangis. Kakak membawa saya ke ruangan IGD, disana saya melihat kondisi bapak yang tidak sadar. Saya mencium tangan dan memeluk beliau sambil mengucapkan kata maaf berulang kali. Kata kakak, bapak jatuh dari tangga dan mengalami dehidrasi yang sudah akut dan menjalar ke seluruh organ vital. Masya Allah, saya terduduk lemas mendengar penjelasan kakak. Hanya do'a yang selalu terucap dan berharap keajaiban yang Allah berikan semoga bapak segera sadar dan sehat kembali. 

Alhamdulillah jam 11.00 bapak sadar dan saya mencoba mengajak bicara beliau dan ketika dokter menanyakan saya siapa, bapak menjawab anak, dokter pun tersenyum. Saya berulang kali mengucapkan syukur Alhamdulillah karena bapak sudah sadar, dan itu kesempatan bagi saya untuk memohon ampun atas kesalahan saya selama ini dan beliau mengangguk dan mengatakan iya. 

Kondisi bapak semakin lama terlihat stabil (terlihat dari alat ventilator), selama bapak sadar saya menceritakan perjalanan umroh saya dan sesekali menunjukkan foto-foto dari handphone dan bapak tersenyum. Teman-teman kakak yang bekerja di RSCM menjenguk bapak dan bapak masih bisa merespon dengan baik dan juga ada beberapa kerabat yang datang. Setelah semua pulang, saya melihat bapak tertidur, mungkin bapak lelah. 

Jam 15.00 dokter menyuruh saya untuk mengambil darah di bank darah RSCM, saat itu saya sendirian karena mama pulang untuk istirahat dan kakak pulang mengambil seragam dinas karena kakak malam ini dinas. Akhirnya saya tinggalkan bapak sendirian untuk mengambil darah, saat kembali saya kaget ternyata kondisi bapak drop lagi. Panik dan takut yang saya rasakan melihat dokter memasukkan bermacam obat ke tubuh bapak. Do'a selalu terucap untuk kesembuhan bapak, saya menghubungi mama dan kakak dan mereka segera menuju rumah sakit. Alhamdulillah ada teteh dan mas wisnu datang, jadi saya tidak merasa sendirian. 

Kakak berusaha mencari ruangan ICU yang kosong dan teman-teman kakak pun juga berusaha membantu, tapi tetap ruangan semuanya penuh. Setelah masa kritis lewat dan kondisi bapak sudah stabil, kakak menyuruh saya dan mama istirahat di rumah. Jam 21.00 saya dan mama pulang, baru saja kami sampai di rumah dan beristirahat sebentar, kakak menelpon saya agar kami kembali ke rumah sakit karena kondisi bapak drop lagi. Saya dan mama panik dan langsung menelpon om untuk mengantar kami ke rumah sakit. 

Jam 23.00 kami tiba di rumah sakit, saya dan mama masuk melihat bapak, Alhamdulillah kondisi bapak stabil. Malam ini saya putuskan untuk tetap ada disamping bapak, karena ruang IGD sangat dingin dan saya khawatir mama nanti sakit maka saya mengajak mama untuk beristirahat di luar dan kakak yang menunggu bapak.

Jam 00.45 kakak menelpon saya kalau kondisi bapak drop lagi, saya dan mama segera masuk ke ruangan IGD, di sana saya melihat banyak dokter mengelilingi bapak dan berbagai macam obat dimasukkan ke tubuh bapak, dan saya melihat garis di alat ventilator sudah sering turun. Saya menangis dan berfikir apa saya harus kehilangan bapak sekarang. Saya dan keluarga bergantian mentalqinkan bapak dan terlihat mulut bapak komat kamit. Dokter masih berupaya menolong bapak dengan melakukan CPR, tapi kakak sebagai orang medis yang mengerti arti dari CPR tidak sanggup melihatnya dan memohon kepada saya dan mama untuk mengikhlaskan bapak dan mengatakan kalau bapak sebenarnya sudah tidak ada dan garis yang masih bergerak di alat ventilator itu semua karena pengaruh obat. Mama pun ikhlas akan kepergian bapak, setelah mama dan saya mengatakan ikhlas, dokter segera menghentikan CPR dan ventilator menunjukkan angka 0 dengan garis lurus panjang. 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Tepat jam 01.00 hari Jum'at tanggal 6 Maret 2015 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) bapak menghembuskan nafas terakhir dengan wajah yang damai dan ditemani seluruh keluarga.

Ya Allah, ampunilah segala dosa bapak hamba, berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah beliau, maafkanlah dan tempatkanlah beliau di tempat yang mulia (Surga), luaskanlah kuburannya, mandikanlah ia dengan air salju dan air es dan kumpulkanlah kami kembali di Surga-Mu. Aamiin.

Makam bapak di TPU Jeruk Purut


*Foto bapak tidak saya tampilkan karena keluarga bagi saya adalah privacy

Kamis, 10 Desember 2015

Malam Panjang di Puncak Semurup - Pangonan

 "Selalu ada yang tertinggal setiap kali mengunjungi dataran tinggi Dieng dan yang tertinggal itu adalah hatiku.. "
Kabut menyelimuti puncak Semurup
Kaki ini kembali berpijak di dataran tinggi Dieng, entah energi apa yang dipancarkan oleh Dieng sehingga membuat saya selalu ingin kembali ke sana. Ya, ini adalah ke lima kalinya saya mengunjungi Negeri di atas awan. Kalau dari hitungan seharusnya saya sudah mendapatkan gelas atau payung sebagai bonusnya, tapi bonus yang didapat dari kelima kalinya saya ke Dieng adalah kentang yang super enak.

"Yuk kita berangkat" ajak mas Sugeng kepada kami. Saya melihat jam dan ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Setelah berpamitan ke ibu mas Sugeng, kami langsung berangkat menuju Basecamp Gunung Pangonan. Kemping di wilayah Pangonan dikenakan biaya sebesar Rp. 10.000,- dan bila tidak kemping hanya dikenakan biaya Rp. 5.000,-. Urusan retribusi selesai, kami menuju jalur pendakian. 
Basecamp Gunung Pangonan
Awal jalur pendakian. Photo by Mulyati Asih
Pipa uap yang sangat besar dan panjang menjadi pembuka jalur pendakian kami menuju padang savana Pangonan. Disebut Pangonan karena dulu di lembah savana banyak kuda yang diangon oleh warga. Sedangkan puncak Pangonan disebut Puncak Semurup yang berasal dari kata "Summer Up". Berdasarkan penjelasan dari mas Sugeng Pinus, bahwa dulu orang Belanda yang menamakan puncak ini dengan sebutan Summer Up tapi warga Dieng menyebutnya dengan Semurup.

Waktu tempuh dari basecamp ke padang savana hanya sekitar 30 menit. Trek yang dilalui pohon-pohon dengan tekstur tanah yang gembur, apabila hujan akan sangat berbahaya karena mudah longsor. Dengan santai kami menuju padang savana, tak terasa kami semakin mendekati padang savana. Masya Allah begitu indah ciptaan-Mu, hamparan rumput yang menguning karena diterpa musim kemarau membentang luas dan dikelilingi oleh bukit hijau menjadikan lembah ini begitu indah. Tak lupa kami segera mengeluarkan kamera dan handphone untuk mengambil foto.
Padang Savana - Lembah Semurup
Keindahan Lembah Semurup
Disaat keasyikan menikmati keindahan padang savana, tiba-tiba hujan mengguyur kami. Kami segera membuka flysheet dan berteduh. Saya sangat menyukai hujan, suka dengan suara rintikan hujan yang menurut saya terdengar sangat syahdu, dan saya juga sangat suka air hujan yang mengalir dengan lembut jatuh ke tangan. Kalau saja saya membawa pakaian ganti lebih mungkin saya sudah hujan-hujanan di tengah padang savana, tapi kali ini saya masih memakai logika dan hal itu tidak saya lakukan hehe.
Tiga puluh menit kami tertahan di padang savana, setelah hujan reda kami segera melanjutkan pendakian. Trek semakin sulit karena tanah menjadi semakin gembur setelah diguyur hujan. Dan sesekali hujan masih datang sehingga membuat kami harus berhenti sejenak. 

Mendekati Puncak Semurup
Jalur menuju puncak terselimuti kabut

Alhamdulillah, tepat jam 5 sore kami tiba di puncak Semurup. Puncak dengan ketinggian 2.300 mdpl dengan view 360 derajat kita bisa melihat keindahan Dieng. Ini adalah puncak kedua bagi saya dengan view 360 derajat, yang puncak sebelumnya adalah puncak gunung Bongkok Purwakarta. Masih ditemani dengan gerimis hujan serta kabut, para cowok memasang tenda dan kami para ladies mulai memasak makan malam. Menu makan malam kita kali ini adalah Pecel sayuran, kentang kacang teri goreng dan tak lupa bakso lobster yang selalu menjadi menu andalan setiap ngecamp, serta kentang goreng hasil temuan mbak Asih di trek. 
Gerimis hujan yang masih jatuh membasahi bumi, kabut yang semakin tebal dan dinginnya udara yang mulai menusuk tulang membuat kami masuk ke dalam tenda lebih awal. Malam ini kami tidak bisa menikmati langit Dieng dari puncak Semurup. Mbak Mulyati Asihdan Siti Noer Diyanah sudah beranjak tidur dengan kehangatan sleeping bag mereka. Walaupun udara sangat dingin entah kenapa malam ini saya belum bisa memejamkan mata dan untuk menghilangkan kebosanan saya pun mengutak atik handphone.  
 
Kabut dan angin malam
Telaga Merdada terlihat dari puncak

Mata ini tetap masih belum bisa terpejam dan saya merasa suasana di luar tenda mencekam. Hujan yang masih belum reda dengan suara angin yang menderu begitu kencang membuat suasana semakin mencekam. Apalagi hanya kami yang nenda di puncak, tak ada tenda tetangga seperti di puncak-puncak lainnya. Walaupun di puncak Prau begitu ramai tapi kami di sini merasakan kesunyian. Tak berani membayangkan hal-hal yang aneh di luar tenda, saya akhirnya bersembunyi di balik sleeping bag dan mencoba untuk memejamkan mata. 
"Kletak Klotek ", saya terbangun ketika mendengar suara kletak klotek . Saya melihat jam tangan dan waktu masih menunjukkan pukul 1 pagi dan suara itu terdengar lagi. Saya memasang pendengaran saya dan ternyata suara itu berasal dari nesting yang diletakkan di luar tenda, mungkin nesting terkena angin, karena hujan belum reda dan angin masih menderu dengan kencang menggoyangkan tenda kami dan seketika cahaya kilat terlihat dari dalam tenda. Saya mencoba kembali untuk memejamkan mata, tapi mata sulit untuk terpejam. Akhirnya saya hanya melihat sekeliling dalam tenda dan melihat mbak Asih dan nchink masih tertidur. 
Malam terasa begitu panjang bagi saya, dan seketika saya kangen dengan suara yang berasal dari tenda tetangga, kangen dengan suara orang-orang yang bergadang di luar tenda, dan kali ini saya sangat tidak suka dengan kesunyian. Saya lewati malam ini dengan berdiam diri di dalam sleeping bag. "Tek tok tek tok" mungkin seperti itu suara jam di tengah kesunyian malam. 
Sunrise yang telat tapi tetap indah
Alhamdulillah sayup-sayup terdengar suara adzan Subuh, 3 jam saya tidak bisa tertidur. Mbak Asih dan Nchink pun terbangun untuk menunaikan ibadah sholat Subuh. Tepat jam 5 pagi saya keluar tenda, hujan dan angin sudah berhenti tetapi kabut masih menyelimuti dinginnya pagi. Dengan kabut yang masih tebal, sudah pasti sunrise tidak akan bisa kami nikmati. Tak dapat sunrise pun tak apa, karena puncak dan sunrise adalah bonus dalam setiap pendakian. 
Kami mulai menyiapkan sarapan dengan menu nasi goreng, bihun goreng dan kentang campur kacang teri, semuanya karbohidrat dan diet tidak berlaku kali ini hehe. "Ini adalah ngecamp yang paling enak dan bisa tidur nyenyak" ujar bang Udin Bhacok disaat kami sedang masak. Ya iyalah secara bang Udin yang biasanya bawa carriel kali ini benar-benar hanya membawa daypack. A Iwan Muzakkir membantu mbak Asih memasak nasi goreng sedangkan bihun goreng diolah oleh chef Nchink. Mas Sugeng dan bang Udin menjemur equipment kami yang basah dan saya sendiri membersihkan dalam tenda.
 
Cerahnya puncak Semurup
Birunya langit.. kuningnya tenda..

Selesai sarapan, kami langsung membongkar tenda. Kabut semakin menipis dan menghilang, menyibak keindahan Dieng dari puncak Semurup, dan kami langsung mengabadikan moment ini dan bernasis ria di puncak. Setelah semuanya beres kami pun perlahan menurunin puncak.


Enam Sekawan beraksi di puncak Semurup
Semoga setelah lembah savana ini dibuka untuk umum, keindahan dan keasriannya tetap terjaga. Tapi entah kenapa saya begitu pesimis, saya sudah membayangkan akan penuhnya puncak dan lembah savana dengan tenda-tenda , tapi rasa pesimis saya terselip rasa optimis kalau mereka yang berkunjung ke Gunung Pangonan mengerti akan artinya menjaga alam.